Pemberontakan APRA

APRA merupakan salah satu pemberontakan yang paling heboh dan juga besar di Indonesia.

Lalu sebenarnya apa sih itu pemberontakan APRA? dimana saja terjadinya? dan bagaimana sejarah terjadinya?

Buat kamu yang penasaran, yuk langsung simak pembahasan lengkapnya berikut!

 

Latar Belakang Pemberontakan APRA

1. Hasil Konferensi Meja Bundar

Perjanjian KMB

Pemberontakan APRA berawal dari hasil KMB atau Konferensi Meja Bundar dilaksanakan pada 1949 di Den Haag. Salah satu hasil KMB yang menggemparkan yaitu rencana pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS).

Tujuannya, Westerling bekerjasama Sultan Hamid II membentuk APRA demi melakukan kudeta terhadap pemerintahan RI.

Sultan Hamid II lebih condong terhadap aliran federal. Adapun kudeta dilakukan sebagai upaya mempertahankan bentuk negara federal RIS.

Sebab, negara bagian dalam RIS saat itu mau membubarkan diri dari negara kesatuan. Tetapi akhirnya negara bagian RIS bergabung kembali dengan RI.

 

2. KNIL dan TNI

KNIL dan TNI

Pembentukan dan pemberontakan APRA berasal dari Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat atau APRIS. APRIS sendiri merupakan latar belakang dari APRA.

Pasalnya, baik anggota TNI dan KNIL diharuskan untuk bergabung dalam APRIS.

Situasi inilah yang dianggap cukup sulit bagi anggota KNIL dan TNI. Kedua badan ini memang sempat berhadapan di medan perang Kemerdekaan Indonesia.

Alhasil, banyak lahir kaum reaksioner yang beraliran federal lalu menggabungkan diri sendiri tanpa paksaan ke APRA.

 

3. Ultimatum Westerling

Ultimatum Westerling

Beberapa waktu sesudah APRA dibentuk, pemimpin APRA Raymond Westerling memberikan ultimatum kepada Pemerintah RIS. Isi dari ultimatum meminta agar pemerintah menjadikan APRA menjadi pasukan resmi.

Selain itu, ultimatum ini juga meminta pemerintah agar segera menyerahkan kekuasaan militer secara penuh di wilayah Pasundan kepada APRA. Tetapi beruntung ultimatum tersebut ditolak dan tidak dikabulkan oleh pemerintah RIS.

Akhirnya para anggotanya berencana melakukan pemberontakan APRA untuk merampas kekuasaan. Baik itu menggunakan cara kekerasan hingga menentukan strategi kudeta.

Target utama dari pemberontakan terpusat di kota Bandung dan Jakarta.

 

4. Kepentingan Belanda

Kepentingan Belanda

Pemberontakan APRA juga disinyalir karena adanya kepentingan bangsa Belanda yang ingin kembali datang ke Indonesia dengan niat menjajah.

Mengapa Belanda ingin menguasai Indonesia lagi, semata-mata untuk mengamankan kepentingan ekonomi negaranya.

Sikap APRA dianggap mempertahankan para sedadu Belanda dalam sistem pemerintahan federal  Indonesia. Pemberontakan tersebut memang berhasil terealisasikan di Jakarta dan Bandung.

Akan tetapi akhirnya para pemberontak berhasil dilumpuhkan dan ditangani.

 

5. Pemberontakan di Bandung

Pemberontakan di Bandung

Pemberontakan APRA di kota Bandung terjadi pada 23 Januari 1950 ketika pagi hari. Awalnya APRA membuat pergerakan dari sekitar Cililin. Pemimpin yang mengomandoinya ada dua orang asal Belanda.

Van der Meula dan Van Beeklen merupakan inspektur Polisi Belanda. Serdadu yang menjalankan pemberontakan ini tercatat ada 800 orang. Sementara,300 orang didalamnya merupakan mantan anggota KNIL menggunakan senjata lengkap.

Situasi saat itu sangat menyeramkan, sebab pemberontakan APRA di kota kembang ini dimulai dengan pembunuhan sadis. Pelakunya tidak lain adalah anggota APRA yang seolah membabi buta kepada para anggota TNI tengah dijumpai.

Gerombolan pemberontak akhirnya dapat menduduki Markas Staf Divisi Siliwangi. Barulah setelahnya terjadi pertempuran tidak seimbang kala itu. Terdapat 150 orang anggota APRA secara ganas melawan 18 orang anggota TNI.

Serangan dari anggota APRA tersebut membuat Letnan Kolonel Lemboh dan 14 orang anggota TNI lainnya gugur. Sementara, 3 orang anggota TNI berhasil melarikan diri.

Langkah yang diambil pemerintah untuk mengusir pemberontakan ada dua cara.

Pertama, melakukan tekanan kepada pimpinan tentara Belanda dan operasi militer. Kedua, Moh.Hatta yang menjadi Perdana Menteri RIS mengutus beberapa pasukan pergi ke Bandung.

Utusan ini diminta untuk mengadakan perundingan bersama Komisaris Tinggi Belanda yang berada di Jakarta.

Singkat cerita lahirlah perundingan Westerling  yang mendesak serdadu APRA segera meninggalkan kota Bandung. APRA makin terdesak karena dikejar oleh tentara APRIS dan rakyat pribumi hingga pergi dari kota Bandung.

Pemberontakan di kota Bandung menyebabkan sedikitnya 79 anggota APRA gugur. Bahkan pemberontak tidak segan-segan melakukan pembantaian terhadap penduduk pribumi.

 

6. Pemberontakan di Jakarta

Pemberontakan di Jakarta

Pemberontakan APRA terdasyat lainnya juga terjadi di kota Jakarta.

Kala menyusun target Jakarta, ada pembelot pribumi yang tidak lain adalah Sultan Hamid II melakukan kerjasama dengan APRA. Dari hasil persekongkolan diam-diam berhasil membuat strategi untuk melakukan:

  1. Penyerangan APRA menuju gedung yang sedang dilangsungkan sidang oleh Kabinet RIS .
  2. Menculik semua anggota menteri RIS.
  3. Membunuh orang penting yang ada di kementerian pertahanan. Diantaranya Menteri Pertahanan, Sekretaris Jendral Kementrian Pertahanan, dan Pejabat atau Kepala Staf Angkatan Perang.

Sultan Hamid II diberikan iming-iming oleh pasukan APRA. Apabila rencana kudeta berhasil maka nanti diangkat sebagai Menteri Pertahanan oleh Raymond Westerling.

Pemberontakan yang dilakukan APRA pada masa itu tidak berhasil. Adapun yang menggagalkannya adalah Pemerintah RIS, rakyat pribumi, dan APRIS. Setelah kegagalan inilah serdadu pemberontak secara perlahan mulai mundur.

 

Tujuan Pemberontakan APRA

Tujuan APRA

Raymond Westerling memiliki tujuan tersembunyi sejak mendirikan APRA. Tujuan utamanya dapat mengganggu proses pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dari Kerajaan Belanda.

Tetapi, proses pengakuan ini akhirnya diberikan Belanda kepada pemerintah RIS pada 27 Desember1949.

Letnan Jenderal Buurman van Vreeden selaku Panglima Tertinggi dalam Tentara Belanda juga turut berupaya menggagalkan pengakuan kedaulatan RI.

Disamping itu, APRA ingin mempertahankan bentuk negara Indonesia federal.

APRA menyatakan kehadirannya sendiri sebagai bagian dari RIS.  Sehingga APRA dapat masuk dan menundukkan salah satu negara bagian.

Kemudian barulah memecah belah Indonesia yang telah merdeka agar dapat kembali ke tangan jajahan Belanda. Aksi pemberontakan APRA ini ternyata sudah diketahui oleh petinggi militer Belanda.

Jadi begitu kurang lebihnya bagaimana pemberontakan APRA terjadi dan buat kamu yang masih penasaran dengan pemberontakan APRA, kamu bisa tanyakan di kolom komentar ya!

Kategori PPKN

Tinggalkan komentar