Genosida

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan genosida?

Kata ini merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM berat dalam catatan yuridiksi International Criminal Count, di samping kejahatan pada kemanusiaan, kejahatan agresi, dan kejahatan perang.

Lalu apa sebenarnya arti dari kata ini dan kapan pertama kali digunakan?

Langsung simak aja pembahasan lengkapnya berikut ini!

 

Apa itu Kejahatan Genosida

Apa itu Kejahatan Genosida

Secara garis besar genosida berarti suatu tindakan yang dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu untuk membunuh, menghancurkan sebagian atau keseluruhan suatu etnis, agama, atau kelompok tertentu.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Raphael Lemkin pada tahun 1944 untuk menggambarkan kebijakan Nazi, berasal dari ‘geno’ (Yunani) yang berarti suku/ ras, dan caedere (Latin) yang berarti pembunuhan.

Berdasarkan Statuta Roma serta Undang-Undang No. 16 tahun 2000 yang mengatur tentang pengadilan HAM, kejahatan genosida merupakan suatu bentuk perbuatan yang sengaja dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan dan ataupun memusnahkan sebagian ataupun seluruh kelompok bangsa, ras, etnis, agama dengan cara melakukan pembunuhan yang mengakibatkan penderitaan fisik dan mental berat.

Selain itu, perbuatan ini juga melakukan tindakan-tindakan lain untuk menciptakan kemusnahan secara fisik, baik sebagian atau seluruhnya.

Tak cukup sampai di situ, kejahatan ini diikuti oleh beberapa upaya pencegahan kembali kelahiran dari kelompok yang dimusnahkan, atau memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok tersebut pada kelompok lainnya.

 

Bentuk Genosida

Bentuk genosida di dunia telah banyak terjadi sepanjang sejarah modern. Coba, sebutkan salah satu yang kamu tahu. Dalam The Rome Statute of the International Criminal Court (Statuta Roma) di tahun 1998, diatur mengenai jenis tindakan yang termasuk dalam kualifikasi kejahatan kemanusiaan (Crimes Against Humanity), antara lain;

1. Pembunuhan

bentuk genosida Pembunuhan

Pembunuhan merupakan suatu bentuk tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan nyawa seseorang dengan cara melanggar hukum maupun sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kasus pembunuhan terbesar dalam sejarah terjadi pada masa Hitler yang ingin mengembalikan kejayaan ras arya dengan cara melakukan pembunuhan masal terhadap jutaan orang Yahudi.

 

2. Sterilisasi paksa

Sterilisasi paksa

Sterilisasi atau pemandulan paksa merupakan program atau kebijakan yang memaksa seseorang untuk mengambil langkah sterilisasi dengan berbagai alasan yang menguatkan.

Sterilisasi sendiri merupakan sebuah metode kontrasepsi permanen yang ditujukan untuk mencegah seseorang agar tak memiliki keturunan.

Tindakan ini ditempuh untuk menekan jumlah keturunan yang dihasilkan oleh suatu kelompok tertentu. Alasannya pun beragam.

Mulai dari alibi untuk penanganan jumlah penduduk yan tak terkendali, diskriminasi jenis kelamin, penormalan, hingga upaya untuk mengendalikan jumlah etnis tertentu.

 

3. Perampasan kebebasan fisik

Perampasan kebebasan fisik

Bentuk perampasan kebebasan fisik cukup variatif dan beragam. Hal ini dapat terwujud dalam bentuk pemenjaraan sehingga sesorang tak memiliki kebebasan yang menjadi haknya.

Lebih buruk dari itu, perampasan kebebasan fisik juga diwujudkan dengan memandang rendah orang cacat dan penyakitan dan menganggap mereka tak boleh hidup sehingga bisa digunakan sebagai bahan penelitian anatomi tubuh.

 

4. Pemusnahan

bentuk genosida Pemusnahan

Pemusnahan merupakan suatu proses/ cara untuk mewujudkan upaya-upaya pembinasaan dan pelenyapan suatu kelompok agar tak memiliki eksistensi lagi di wilayah yang dikehendaki.

 

Contoh Kasus Kejahatan Genosida

Sejauh ini, kamu sudah paham mengenai bentuk kejahatan genosida kan? Nah, untuk lebih mendalami pemahamanmu, perhatikan dan pelajari contoh kasus di bawah ini.

1. Genosida Armenia

genosida armenia

Peristiwa genosida Armenia terjadi pada masa Perang Dunia I, di mana pembantaian dan deportasi massal dilakukan karena adanya isu sensitif antara Armenia dan Turki.

Tercatat sejak tahun 1915 silam, etnis Armenia yang tinggal dan menetap di wilayah kesultanan Ottoman dikumpulkan untuk kemudian dideportasi, bahkan beberapa diantaranya diekseskusi atas dasar perintah pemerintah.

Akar masalahnya sebenarnya dilatarbelakangi oleh runtuhnya Kekaisaran Ottoman yang sempat berjaya atas wilayah yang luas.

Namun, akibat Perang Balkan yang berlangsung pada 1912 hingga 1913, Kekaisaran Ottoman kehilangan seluruh wilayahnya di benua Eropa. Hal inilah yang memicu ketidakstabilan antar kelompok etnis nasionalis.

Pembantaian, pemulangan dan segala bentuk deportasi paksa yang dilakukan pada masa ini menewaskan lebih dari 1 juta etnis Armenia, Asyur dan Yunani.

Sampai hari ini Turki masih tak mengakui adanya pembantaian alias genosida di wilayahnya, mereka beralibi bahwa kematian yang terjadi merupakan akibat peperangan, wabah penyakit dan kelaparan.

 

2. Holocaust oleh Nazi Jerman

Holocaust oleh nazi

Sesaat setelah memegang tampuk kuasa, Partai Nazi Jerman melakukan beberapa tindakan yang sistematis dan terorganisir guna memurnikan etnis yang ada di Jerman.

Gerakan ini disebut sebagai ‘Solusi Akhir’. Sedikitnya enam juta pemeluk Yahudi, lima juta orang Slavia, Roma dan beberapa yang dianggap sebagai pembangkang tewas pada peristiwa Holocaust.

Puncaknya, di tanggal 9 hingga 10 November terjadi kerusuhan di seluruh wilayah Jerman, Austria dan Cekoslowakia (kini terpisah dan menjadi Ceko dan Slavia).

Kerusuhan ini menargetkan orang-orang Yahudi, berikut tempat bisnis dan tempat ibadah mereka. Begitu membekasnya memori mencekam di malam ini, hingga dikenal sebagai Kristallnatcht atau jika diterjemahkan ‘Malam Kaca Pecah’.

Dalam kurun waktu 2 malam tersebut, setidaknya ratusan atau mungkin ribuan sinagong dibakar.

Tak cukup sampai di situ, tercatat tak kurang dari 7.000 bisnis Yahudi dijarah lalu dihancurkan hingga menewaskan lebih dari banyak orang. Sisanya, 30.000 pria Yahudi ditangkap dan diangkut secara paksa untuk diboyong ke kamp konsentrasi.

 

3. Khmer Merah Kamboja

Khmer Merah Kamboja

Partai komunis Kamboja (saat itu masih bernama Kampuchea) atau lebih dikenal dengan sebutan Khmer Merah mengambil alih pemerintahan pada tahun 1875.

Partai ini awalnya lahir dari perjuangan melawan penjajahan Perancis. Lambat laun, gerakan yang dipicu oleh perang Indochina pertama di tahun 1950an ini berkembang dan tumbuh menjadi gerakan resmi di tahun 1968.

Di bawah kepemimpinannya, rezim ini melakukan rekayasa sosial yang sangatlah radikal.

Awalnya, rezim mengumumkan pembaharuan berupa ‘Tahun Nol’ dimana Pol Pot mengharapkan Kampuchea agar terlahir kembali melalui langkah-langkah kolektivitisme dan swasembada yang bersifat absolut.

Hal pertama yang dilakukan adalah mengevakuasi penduduk kota ke wilayah pedesaan. Di tengah long march evakuasi tersebut, anak-anak, orang tua dan mereka yang sakit dibunuh.

Selanjutnya mereka mulai mmenargetkan orang yang dianggap sebagai pembangkang politik, termasuk dari kalangan dokter, guru, dan orang yang dianggap berpendidikan.

Penyiksaan dilakukan di penjara Tuol Seng. Selama 4 tahun berkuasa, rezim ini telah membunuth hingga 2 juta warga Kamboja dalam Killing Fields atau dikenal sebagai lading pembantaian Khmer Merah.

 

4. Rwanda

Rwanda

Genosida Rwanda merupakan salah satu tragedi terkelam dalam sejarah dunia. Tragedi ini dipicu oleh meninggalnya Presiden Rwanda, Juvanel Habyarimana dalam sebuah kecelakaan pesawat di tahun 1994.

Kejadian tersebut menyebabkan kekerasan terorganisir terhadap suku Tutsi dan penduduk sipil Hutu moderat.

Tak kurang dari 800.000 suku Tutsi dan Hutu dibantai dalam program genosida terorganisir selama 100 hari. Tragedi ini tercatat sebagai pembantaian tercepat dalam sejarah dunia.

 

5. Konflik Bosnia

Konflik Bosnia

Konflik terjadi ketika Republik Bosnia dan Herzegovina (Bosnia) mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1992.

Wilayah tersebut lantas menjadi medan pertempuran. Orang Serbia mengincar warga Bosnia dan Kroasia untuk melakukan kampanye pembersihan etnis. Konflik ini merengut sedikitnya 100.000 nyawa.

 

6. Pembantaian massal Jalan Raya Pos

Pembantaian massal Jalan Raya Pos

Genosida juga pernah terjadi di Indonesia pada masa kepemimpinan Daendels. Saat itu ia memerintahkan untuk membangun jalan dari Anyer hingga Panarukan.

Peristiwa itu juga sering dijadikan contoh bentuk kerja paksa yang memakan banyak korban jiwa.

Tentara Belanda tak segan langsung membunuh pekerja yang sakit dan kelelahan lalu membuangnya di jalan. Peristiwa ini memakan korban lebih dari 12.000 jiwa.

 

7. Pembantaian Mandor oleh Jepang

Pembantaian Mandor oleh Jepang

Di jaman penjajahan Jepang, Indonesia kembali mengalami peristiwa berdarah. Peristiwa ini terjadi di Mandor, Kalimantan Barat.

Tak kurang dari 20.000 orang dibunuh tanpa ada alasan yang jelas. Pembunuhan dilakukan dengan mengumpulkan warga berusia lebih dari 12 tahun untuk kemudian ditembak dengan kepala tertutup, atau dipenggal dengan samurai.

 

8. Pembantaian PKI

Pembantaian PKI

Pembantaian PKI cukup menggegerkan karena terjadi pasca Indonesia merdeka. Peristiwa kelam ini terjadi pada kisaran tahun 1965-1966 dan menjadi sejarah kelam yang terus diingat dalam sejarah bangsa Indonesia.

Setidaknya 500.000 orang terbunuh dari kalangan anggota PKI, simpatisan, bahkan orang awam yang terlibat organisasi tersebut dibunuh tanpa pandang bulu.

Genosida merupakan sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus dilenyapkan. Karenanya, peranan lembaga dan peradilan internasional sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Kategori PPKN

Tinggalkan komentar